Halsel, Jojagapost.com — Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Halmahera Selatan, dinamika pencalonan mulai mendapat sorotan. Fungsionaris Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Wilcho Rusu, mendesak Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PIKI Maluku Utara, Abner Nones, agar memberikan perhatian serius terhadap proses konsolidasi dan kontestasi kepemimpinan di tingkat cabang.
Wilcho menilai, Konfercab tidak boleh direduksi menjadi sekadar arena distribusi jabatan bagi sejumlah figur yang telah lebih dahulu menduduki posisi strategis di organisasi kepemudaan lainnya. Menurutnya, PIKI memiliki identitas dan tanggung jawab intelektual yang lebih besar, sehingga kepemimpinannya harus dibangun di atas kapasitas, integritas, gagasan, serta kesungguhan dalam mengembangkan organisasi, bukan berdasarkan ambisi memperluas pengaruh personal maupun kelompok.
“Organisasi intelektual tidak boleh kehilangan orientasi hanya karena perebutan posisi struktural. PIKI harus menjadi rumah bagi gagasan, dialektika, dan kontribusi pemikiran bagi pembangunan daerah. Jangan sampai ruang intelektual justru berubah menjadi ruang konsentrasi jabatan bagi segelintir orang,” tegas Wilcho, Selasa (3/11/2026).
Ia juga menyoroti potensi rangkap jabatan dan konsentrasi kepemimpinan yang dinilai perlu dicermati secara serius. Berdasarkan dinamika pencalonan yang berkembang, terdapat figur yang masih menjabat sebagai Sekretaris PCPS GMKI Bacan, tetapi turut mencalonkan diri sebagai Ketua PIKI Halsel. Sementara itu, posisi Sekretaris PIKI Halsel juga dikabarkan menjadi incaran Ketua GAMKI Halsel.
Bagi Wilcho, persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut hak seseorang untuk mencalonkan diri, melainkan juga menyangkut etika kepemimpinan, komitmen terhadap tanggung jawab organisasi, serta keadilan dalam membuka ruang regenerasi. Ia mengingatkan bahwa jabatan struktural bukan sekadar simbol prestise, melainkan amanah yang menuntut konsistensi waktu, pikiran, tenaga, dan tanggung jawab.
“Jangan sampai seseorang begitu bersemangat mengejar jabatan di organisasi lain, tetapi tanggung jawab yang sedang melekat pada dirinya justru tidak mendapatkan perhatian yang proporsional. Kepemimpinan bukan tentang berapa banyak posisi yang berhasil dikuasai, melainkan seberapa besar tanggung jawab yang mampu dituntaskan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Halmahera Selatan tidak kekurangan kader muda maupun kaum intelektual Kristen yang memiliki kapasitas akademis, pengalaman organisasi, dan perspektif kritis terhadap pembangunan daerah. Karena itu, Konfercab seharusnya menjadi momentum memperluas partisipasi, melahirkan kepemimpinan baru, serta menghindari terbentuknya lingkaran kekuasaan yang berpotensi mempersempit kesempatan kader lainnya.
Wilcho berharap DPD PIKI Maluku Utara tidak hanya hadir sebagai unsur struktural yang menyaksikan proses Konfercab, tetapi juga menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan secara objektif. Seluruh dinamika pencalonan perlu dikawal berdasarkan konstitusi organisasi, mekanisme persidangan, serta prinsip demokrasi yang menjunjung tinggi integritas dan kesetaraan kader.
“PIKI harus dibangun dengan semangat Caritas et Veritas, kasih dan kebenaran. Jangan sampai nilai tersebut hanya menjadi slogan organisasi, sementara praktik kepemimpinannya justru menjauh dari keterbukaan, regenerasi, dan tanggung jawab kolektif. Konfercab ini harus melahirkan pemimpin yang membawa gagasan, bukan sekadar menambah daftar jabatan,” pungkasnya. (Red)